Manajemen Kelas Efektif


Manajemen Kelas Efektif
Edu sering mendapat pertanyaan dari para guru berkaitan dengan persoalan belajar-mengajar di kelas, yaitu mengenai pendekatan terbaik yang efektif dan efisien dalam mengelola manajemen kelas. Keragaman perilaku dan kemampuan siswa seringkali menjadi alasan utama mengapa seorang guru rata-rata memiliki kesulitan dalam mengelola kelas dengan baik. Dalam banyak kasus bahkan banyak juga guru yang tidak peduli dengan ragam pola perilaku siswa (students behaviors) yang seharusnya mendapat treatment berbeda antara satu dengan siswa lainnya.
Karena keputus-asaan para guru, akhirnya persoalan manajemen pengelolaan kelas menjadi hal yang sulit dipahami, karena biasanya para guru sering mengambil jalan pintas dalam mengatasi persoalan di kelas, yaitu menggunakan otoritasnya yang besar sebagai guru, sambil mencoba mengklasifikasi siswa mereka dengan hukuman dan penghargaan (punishment and reward) yang seringkali sangat bersifat penanganan sementara terhadap kasus-kasus yang menimpa siswa dalam belajar.
Pemahaman guru tentang pengelolaan atau manajemen kelas yang efektif dengan demikian harus diperbaiki. Kegagalan guru dalam mengelola kelas secara efektif, sejauh pengalaman Edu, banyak dikarenakan guru tidak memiliki keterampilan mengelola kelas. Sebagai salah satu bentuk dari kemampuan pedagogis, mengelola kelas secara baik akan sangat membantu guru dalam meningkatkan capaian akademik siswa. Karena dalam beberapa studi yang digambarkan oleh Adam Waxler dalam "eTeach: A Teacher Resource for Learning the Strategies of Master Teachers, " disebutkan, bahwa antara kemampuan guru dalam pengelolaan manajemen kelas dan student echievement terdapat korelasi yang baku dan sangat menentukan.

Dalam banyak kasus, pendekatan sederhana para guru dalam mengatasi problem siswa di kelas lebih kepada pendekatan hukuman dan penghargaan. Jika ada satu atau siswa melakukan kesalahan, seorang guru biasanya lebih banyak “menghakimi” siswanya dengan menulis nama siswa tersebut di papan tulis, menegurnya di depan teman-teman sekelasnya, bahkan dalam beberapa kasus ditemukan guru tidak segan untuk memaki dan memarahi seorang siswa di depan teman-temannya.

Sebaliknya, banyak juga guru, atas dasar karena suka dengan siswa tertentu entah karena preatasi atau orangtuanya, seorang guru juga kerap memberikan pujian di depan kelas secara sepihak, tanpa menyadari perasaan tertekan siswa lainnya yang tidak dipuji atau dihargai. Blocking mental development para siswa dengan sendirinya menjadi terklasifikasi antara siswa pandai dan bodoh, kaya-miskin, dan bentuk labelling lainnya. Bahkan tak jarang para guru kiti seperti terbiasa melakukan bujukan yang tak semestinya dalam mengatasi problem perilaku siswa mereka. Pendekatan “you behave today, I will give you a piece of candy” akhirnya menjadi pilihan sederhana dalam mengelola perilaku siswa di dalam kelas.

Pendekatan sederhana dalam mengelola manajemen kelas tanpa membuat perasaan sakit hati siswa lainnya sebenarnya sangat sederhaha. Kuncinya terletak pada bagaimana seorang guru mampu membuat seluruh siswa di kelasnya tetap aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas. Para guru dapat mencoba lima tips cara mudah mengelola kelas di bawah ini.

Pertama, gunakan pendekatan All-write. Tinimbang meminta anak untuk mengacungkan tangan dalam merespon setiap pertanyaan dari guru, lebih baik meminta mereka untuk menuliskan jawaban mereka dalam bentuk naratif. Bukan hanya guru akan lebih memudah membuat siswanya untuk sibuk dan berpartisipasi aktif, tetapi kemampuan siswa dalam merespon jawaban juga pasti akan meingkat karena siswa akan mencoba merekonstruksi dan menganalisis jawaban secara tertata.

Kedua, pasangkanlah setiap siswa untuk terbiasa saling berbagi dan saling mengkritik jawaban mereka masing-masing. Seluruh kelas pasti akan ramai dalam suasana diskusi yang hidup.

Ketiga, gunakan sesekali pendekatan on-the-clock, agar siswa terbiasa juga mengerjakan sesuatu dengan batas waktu yang diberikan para guru. Kemampuan ini akan meningkatkan fokus siswa dalam belajar.

Keempat, guru juga dapat menggunakan pendekatan check-for-Understanding terhadap siswa secara satu persatu. Tolok ukurnya bukannya pemahaman guru, tapi untuk mengecek seberapa besar dan jauh pemahaman siswa terhadap mata pelajaran. Kelima, buatlah semacam list dalam katagori ”do-now assignment” yang harus dikerjakan siswa saat itu juga, hanya untuk mengecek kesiapan para siswa untuk belajar hari itu.

Sekali lagi, manajemen kelas yang efektif bukanlah sekedar punishment and reward, tapi bagaimana seorang guru mampu meningkatkan keterampilan pedagogisnya dalam mengajar secara tertata dan sistimatis yang jauh dari perasaan ingin menyakiti perasaan siswa-siswa mereka.

dikutip dari kick andy : Manajemen Kelas Efektif, Ahmad Baedowi
.

1 komentar:

wakden banget mengatakan...

Maa nyo lai???????????/

Posting Komentar

 
blackinnews | Gallery Jadoel | School | Hobbies | Download | irwan

Copyright © 2009 . |Designed by IRWAN SETIAWAN |Converted to blogger by keretaunto.blogspot.com

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.