Merantau Bagi Masyarakat Minangkabau Periode 1990-2000-an


Berdasarkan kajian kemasyarakatan, merantau dapat diartikan dengan orang yang meninggalkan teritorial asal dan menempati teritorial baru. Dirantau mereka mencari mata pencaharian baru untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Didaerah rantau pun para perantau akan dihadapkan pada sistem sosial kemasyarakatan baru yang sedikit banyaknya akan berbeda dengan daerah asalnya. Yang hal ini akan mempengaruhi pula pada sistem dan struktur keluarga yang dibentuknya di perantauan.
Di daerah rantau, si perantau pastinya akan berdampingan, berinteraksi, berakulturasi dengan etnis, suku lain. Dalam tatanan pemikiran normal, semakin lama sebuah keluarga dan generasi hidup di perantauan, maka akan makin jauh mereka tercabut dari akar budayanya. Masyarakat Minangkabau yang diakui sebagai masyarakat perantau juga mengalami hal tersebut. Namun tetap saja akan ada nilai-nilai, norma kedaerahan mereka akan ada dan terus terpatri.

Disaat kita ingin mengetahui tentang sejarah budaya merantau masyarakat minang, tidak sasih kalau kita tidak melihat tulisan dari Mochtar Naim “Merantau Pola Migrasi Suku Minangkabau” . Namun ada beberapa hal baru yang patut di tambahkan untuk mengetahui budaya merantau minang dalam tahun-tahun terakhir (1990-an-2000-an). Karena dalam kajian Muchtar Naim, pola merantau orang minang ikut dipengaruhi oleh trauma politik yang dialami masyarakat minang setelah munculnya perjuangan meminta keadilan oleh masyarakat luar Jawa yang disebut dengan gerakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) 1958, yang di cap sebagai pemberontak oleh pemerintah pusat sehingga harus di habiskan “ harus di habiskan sampai ke akar-akarnya”.
Dengan mengerahkan 2.110 tentara dari pusat (jakarta) A.H Nasution “Menyelesaikan” masalah PRRI dengan berbagi jalan. Hal ini menekan perasaan, hargadiri dan kemerdekaan orang Minang. Sehingga ini menjadi sebuah monetum penting dalam perjalanan sejarah perjalanan hidup orang minang sehingga banyak yang memilih merantau.
Untuk mempertegas eksistensi budaya merantau orang minang dewasa ini sebenarnya ada beberapa point lagi yang dapat di tambahkan sebagai hal yang mempengaruhi kepergianny ke negeri rantau, yaitu:
1. Melanjutkan budaya merantau.
Merantau yang telah berkembang dari generasi ke generasi menyebabkan munculnya berbagai cerita, kisah tentang keberhasilan dan mapanan ekonomi para perantau, menyebabkan generasi muda ikut dipengaruhi secara emosi. Mereka pun ingin mencapai cerita-cerita kesiksesan itu dengan pergi merantau.
Sang mamak, kakak, saudara, teman, yang telah merintis usaha dirantau pun memberikan peluang bagi kemponakan, adik untuk bisa membantu, dan mengembangkan usaha dirantau, sehingga si keponakan, adik akhirnya di bawa kenegeri orang.
2. Pengaruh Pendidikan.
Tidak dapat dipungkiri, daerah Sumatera barat merupakan daerah yang menghasilkan beribu sarjana di berbagai bidang keahlian ditiap tahunnya. Mereka dituntut untuk mampu memperlihatkan kemampuan, kompetensi dan daya saing yang tinggi agar bisa mempraktekan ilmunya di dunia usaha yang sangat terbatas di Sumatera Barat. Sementara itu di daerah rantau, tenaga, ilmu mereka banyak dibutuhkan dan dicari. Hal ini menyebabkan sarjana tamatan Sumatera Barat memilih keluar dari daerah ini, agar peluang kerja yang mereka ingin kan dapat terbuka lebih luas.
Masyarakat Minangkabau sejara kajian historis dan kebudayaan memang masyarakat yang relatif mementingkan pendidikan, mereka tidak hanya menuntut ilmu di Sumatera Barat. Banyak juga diantaranya yang keluar daerah ini untuk menuntut ilmu. Baik didalam maupun diluar negeri. Pengaruh dari pendidikan diluar daerah, akan membuat mereka makin terbuka dengan dunia luar, persahabatan, relasi, dan peluang kerja di luar daerah pun merka dapatkan sehingga sebagian besar mereka yang telah selesai memperoleh pendidikan di luar Sumatera Barat pun, mencari pekerjaan diluar teritorial Minangkabau.
3. Makin sempitnya peluang usaha di daerah asal.
Sumatera Barat dalam segi peluang dunia usaha sudah makin sempit dan terbatas, “dak ado galeh yang dak dijua urang di Sumabar lai” sehingga untuk mengembangkan bidang usaha yang diharapkan bisa dapat berkembang dengan maksimal, banyak orang yang memilih daerah lain.
Dari segi pendapatan daerah, yang relatif terbatas juga mempengaruhi keuntungan dunia usaha di Ranah Minang. Ibarat kan berjualan kain, kalau menjual baju yang sama kualitas dan mereknya di Bukittinggi mendapatkan untung dari penjualannya Rp. 10.000,- tapi kalau dijual di luar (Riau, Jambi,dll) bisa mendapat untung Rp. 25.000,-. Ini juga mempengaruhi para pedagang untuk keluar dari Sumbar.
Bagi perantau minang tahun 1990-an-2000-an, kasih masukan…. Masuk bagian manakah anda????

3 komentar:

wakden banget mengatakan...

Oke...bangets....

novi mengatakan...

bole..bole....
dan yang penting smua itu mang realistis...
pesan buat perantau : jaya di negeri orang tolong jo lah caliak jo bangun nagari awak...

wakden banget mengatakan...

tarimo kasih buk...

Posting Komentar

 
blackinnews | Gallery Jadoel | School | Hobbies | Download | irwan

Copyright © 2009 . |Designed by IRWAN SETIAWAN |Converted to blogger by keretaunto.blogspot.com

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.